Archive

Posts Tagged ‘Review’

Shutter Island vs Pintu Terlarang

2010/04/08 10 comments

Don’t you get it? You’re a rat in a maze.

Martin Scorsese kembali bekerja sama dengan aktor kesayangannya, Leonardo DiCaprio, setelah sebelumnya sukses lewat The Departed, The Aviator dan Gangs of New York. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Dennis Lehane (penulis Mystic River) dan dibantu oleh Laeta Kalogridis (penulis Avatar, dan kabarnya sedang mengerjakan Battle Angle Lalita dan Ghost In The Shell, adaptasi manga dan anime dari Jepang).

Film ini bersetting di tahun 1950-an, bercerita tentang 2 orang U.S Marshall, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan partner barunya Chuck Aule (Mark Ruffalo). Keduanya ditugaskan dari Boston untuk menyelidiki kasus menghilangnya seorang pasien bernama Rachel di sebuah rumah sakit jiwa Ashecliffe di Pulau Shutter (Shutter Island). Sejak awal film ini, kita digiring untuk membayangkan betapa angker dan menakutkannya Pulau Shutter, warna-warna gelap nan mencekam ikut mendukung ke-misterius-an pulau tersebut. Pulau yang terisolir dan dikelilingi para penjahat kelas kakap yang mengalami sakit jiwa akut (criminally insane kata Teddy), bayangkan gimana rasanya kalo terjebak disitu. Ditambah scoring film ini yang sangat mendukung sepanjang cerita. thumbs up!!
Dalam penyelidikannya, Teddy menginterogasi pimpinan rumah sakit tersebut, Dr. Cawley (Ben Kingsley), berikut para perawat, sipir dan beberapa pasien lain. Teddy merasa ada yang aneh dengan rumah sakit tersebut. Banyak teka teki juga konspirasi yang menghadangnya dan semuanya seperti ditutup-tutupi oleh para penghuni rumah sakit itu. Apalagi setelah Teddy mengetahui bahwa ada pasien ke 67 di rumah sakit itu, padahal sebelumnya dikatakan hanya 66 pasien yang terdaftar. Siapakah pasien ke 67 itu?

Suasana makin menegangkan karena kabarnya rumah sakit itu adalah tempat percobaan ilegal pemerintah yang menjadikan para penjahat sakit jiwa itu sebagai objek untuk ‘dibantai’ di mercu suar misterius di Pulau Shutter. Ditambah lagi sempat terjadi badai yang memutuskan aliran listrik, memporak porandakan rumah sakit hingga para pasien panik dan ‘kabur’. Makin horor kan?

Mimpi buruk atau halusinasi makin sering dialami Teddy sejak berada di pulau itu, mimpi tentang istrinya Dolores (Michelle Williams, ni cewe pernah maen di serial remaja yang booming banget, Dawson’s Creek) yang telah meninggal karena dibunuh oleh pria misterius bernama Laeddis yang kabarnya juga berada di rumah sakit itu, atau ingatannya (traumatis) saat ikut berperang melawan Nazi, hingga hantu istrinya yang sering muncul di rumah sakit itu. Teddy tidak tahu lagi antara kenyataan atau fiktif.

Not Martin’s best work, but come on, could you make a better movie than him?


Walaupun berdurasi cukup panjang (2 jam 30 menit-an), film arahan Martin Scorsese ini tidak membuat bosan, (sama seperti saya menikmati The Departed) ceritanya seakan mengalir dengan rapi dan menimbulkan rasa penasaran juga deg-degan sepanjang film. Twisted plot, mind blowing conflict (hayah) dalam film ini menjadikan kita menebak-nebak endingnya. Ditambah kualitas akting yang baik menjadikan film ini worth it untuk ditonton, apalagi bagi para pecinta film thriller. Nah sekarang pertanyaannya adalah :
Apakah benar para dokter itu melakukan perawatan radikal dan ilegal terhadap para pasien rumah sakit jiwa itu?
Siapa pasien ke 67 yang misterius itu?
Berhasilkah Teddy menangkap Laeddis?
Misteri apa yang terjadi di rumah sakit itu?
Temukan jawabannya di akhir film. Ya sedikit telat sih, karena film ini sendiri dirilis awal Maret lalu, tapi karena berhubung bioskopnya agak terbelakang dan idiot, terpaksa memakai jalan belakang. hehehe. Jadi kalo kalian suka film thriller psikologi dan penuh puzzle, better watch it on DVD, with a good quality off course. Atau kalo perlu beli yang original, biar lebih puas rasa mencekamnya. hehe.

Film ini terasa classic, dark, dan twisting. It will twist your mind from the beginning until the end. Mungkin alurnya akan terasa lambat di awal film, namun apabila anda sabar menunggu sampai akhir film anda pasti akan bergumam ‘ohh begituuu..’ (jagoanmovies.blogspot.com)



Paramount Pictures
Cast: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Max von Sydow, Michelle , Emily Mortimer, Patricia Clarkson, Jackie Earle Haley, Ted Levine
Written by: Laeta Kalogridis (screenplay), Dennis Lehane (novel)
Directed by: Martin Scorsese
More Info : imdb

***

Nah, kebetulan saya men-follow twitter seorang sutradara bernama Joko Anwar, karena menurut rekomendasi temen, komen-komennya lucu, menghibur, kritis, jadi bukan karena dia sutradara, hehehe. Jujur saja, saya antipati dengan film-film Indonesia era milenium, ya walopun sebelum milenium juga sama aja. Ya intinya rada males dengan film Indonesia, kecuali emang bener-bener yakin bagus dan gak rugi nonton di bioskop, seperti Cintapuccino. 🙂 🙂 🙂
Balik ke masalah follow unfollow itu. Waktu baru ‘heboh-heboh’ nya Shutter Island di Indonesia, di timeline saya muncul statement seperti ini.

wah becanda ni mas-nya…

What? apa itu Pintu Terlarang? siapa itu Gambir? nah dari situlah, saya memutuskan untuk menonton film berjudul Pintu Terlarang (2009), karya Joko Anwar. Dan ternyata, film ini juga merupakan adaptasi dari sebuah novel berjudul sama, karya Sekar Ayu Asmara.

Film dibuka dengan adegan di sebuah galeri seni, mirip bioskop juga. Gambir (Fachri Albar), seorang seniman (pematung) sukses yang mengusung tema wanita hamil di setiap karyanya. Diselingi dialog penuh misteri antara Gambir dan Talyda (istrinya, diperankan oleh Marsha Timothy) film ini lalu dibuka dengan opening ala film Hollywood!!, animasi dan BGM pembukanya sangat tidak biasa untuk ukuran film Indonesia ‘masa kini’. Baguslah, ada nilai lebihnya nih. Secara visual bener-bener oke, gambarnya artistik, ceritanya juga berada ‘di luar jalur’. Jempol deh.


Balik ke cerita, nah di balik kesuksesan Gambir, ternyata ia dan istrinya menyimpan suatu rahasia (no spoiler deh). Masalahnya, selain rahasia itu, kehidupan Gambir mulai terganggu sejak ia mendapatkan ‘pesan’ minta tolong dari seseorang yang misterius. Pokoknya sepanjang film pikiran Gambir dijadikan permainan, hingga akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk bernama Herosase (no spoiler lagi). Dari situlah, Gambir akhirnya menemukan siapa yang memberikannya pesan meminta tolong itu. Sekaligus menemukan kenyataan menyakitkan yang juga melibatkan istri, 2 sahabat dan ibunya sendiri. Lalu, Pintu-nya mana?tenang, pintunya itu ada di basement rumah Gambir, pintu berwarna merah terang itu sudah dilabeli penuh rahasia dan tidak boleh dibuka oleh sang istri. Makin penasaran kan?hehehe.
Filmnya sendiri cukup menghibur, alur ceritanya menarik untuk diikuti karena penasaran (subjektif), settingnya sendiri seakan bukan di Indonesia (sengaja kali ya?). Tapi yang cukup mengganggu adalah dialognya yang sebagian besar memakai bahasa baku, jadinya kurang alami gitu. Akting Marsha kurang bagus disini, masih tampak dilebih-lebihkan, over-acting (Ternyata ada juga reviewer yang berpendapat sama), lalu gerakan menyibak rambut Fachri yang terlalu sering juga menurut saya cukup mengganggu. Juga masih banyak dialog-dialog cheesy ala Indonesia, hehehe.

Naahh, setelah menonton dua film ini, bingo, secara tidak langsung ada beberapa point yang menjadi benang merah/kesamaan (menurut saya) dengan Shutter Island.
1. Adaptasi sebuah novel (oke, masih normal)
2. Thriller psikologi, bermain dengan pikiran sang tokoh utama (oke, masih diterima)
3. Sang istri memegang kunci rahasia (mirip-mirip sikitlah)
4. Tokoh utama sama-sama dihantui sesuatu.
5. Isi sendiri deh kalo nemu….

Hell with that, yang penting Pintu Terlarang cukup menghibur dan berani tampil beda. Toh walaupun tidak begitu laku di negeri sendiri, tapi film ini ditanggapi positif di dunia internasional. Kesimpulannya, film ini memang film nasional layak tonton!. Hail Joko Anwar!!

  • Pintu Terlarang terpilih dan diputar pada International Film Festival Rotterdam ke-38 pada 21 Januari hingga 1 Februari 2009.
  • Pintu Terlarang juga berhasil meraih penghargaan Best of Puchon di Puchon Intenational Fantastic Film Pestival yang digelar di Korea Selatan pada 16-26 juli 2009 (sumber wikipedia)

Not surprisingly, though, not only Pintu Terlarang met my already high expectation, it has also managed to surpass it in many ways: cinematography, angles, and a brilliant adaptation of the original storyline (I only wish that someday I would have the chance to see the uncut or director’s cut version)

This movie is a perfectly executed thriller combining startling and grisly violence with mystery and a foreboding mood. A young artist finds himself drawn into a world of terror against his will and his life begins to unravel. This is a story of a cruel world and of living under the power of others.

Sutradara : Joko Anwar
Produser : Sheila Timothy
Penulis : Joko Anwar
Pemeran : Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe
Sinematografi : Ipung Rahmat Syaiful
Penyunting : Wawan I Wibowo
Distributor : Lifelike Pictures
Durasi : 115 menit
More info :

Gambir dan si peminta tolong

Patungnya juga ikut menyimpan rahasia

Christmast’s Gala Dinner

Dari sinilah semua cerita ini berasal

Last, but not least, this cool poster!!

Tags:

Sang Pemimpi

2009/12/29 14 comments

Ayahku pernah bilang, ‘bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk semua mimpi kita’

Berkesempatan menonton Sang Pemimpi saat premier 17 Desember lalu, dalam pikiran yang terlintas adalah, film ini jaminan berkualitas dan berkelas dibanding film Indonesia lainnya, karena ada nama Riri Riza dan Mira Lesmana di balik proyek tetralogi novel karya Andrea Hirata ini. Seperti yang kamu semua ketahui, film ini adalah adaptasi buku laris yang pada tahun 2008 melakukan debutnya lewat Laskar Pelangi.
Plotnya berkisah seputar pengalaman Haikal/Ikal (Vikri Setiawan) yang sedang merantau di Jakarta, bekerja sebagai petugas pos dan asyik ber-flashback ria ke kehidupan remajanya, dan pertemanannya dengan Arai dan Jimron. OK, karena saya sendiri tidak menyukai novel, maka dipastikan novel terlaris ini pun luput dari ruang baca saya (hayah), tapi menurut beberapa reviewer, banyak yang terkejut karena karakter Lintang, Mahar, dan lainnya dihilangkan.
Film ini mengandalkan narasi Ikal sebagai petunjuk. Bagaimana Ikal bisa terdampar di Jakarta, luntang lantung tidak jelas demi mengejar mimpi menaklukkan dunia dan kuliah master di Sorbonne, Prancis. Mimpi itu dimulai saat ia bertemu Arai, sepupunya yang yatim piatu, Arai-lah yang membangun mimpi itu dan mempertahankannya terus hidup di tengah realitas hidup di Belitong yang pahit, terutama saat sang ayah (Mathias Muchus) terkena PHK atau bertahan di kantor pos melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai setelah lulus kuliah. Realita yang banyak ditemui sekarang kan?
Bagi Ikal, Arai adalah anak yang istimewa, jalan pikirannya terkadang sulit dipahami dan out of the box untuk anak seumurannya, tapi tujuan akhirnya adalah memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Itulah yang membuatnya kagum. Tapi di tengah konflik yang terus ada, tidak jarang Ikal merasa ragu akan mimpinya itu dan menyalahkan Arai sebagai sumber masalahnya.
Petualangan Ikal, Arai, Jimron sejak dari pesantren hingga SMU ini mengisi film berdurasi 120an menit ini. Mulai dari Arai yang nakal dan iseng (tapi pintar), Jimron yang terobsesi dengan kuda, Ikal yang polos. Walaupun mereka hidup miskin (seadanya) tapi tetap semangat belajar dan bekerja demi meraih mimpi masing-masing. Mimpi itu semakin menjadi saat mereka bertemu dengan Pak Balia (Nugie), salah satu guru mereka di SMA. Demi mimpi itu, mereka harus memutar otak dan akal di tengah himpitan kemiskinan. Mereka bekerja part time untuk biaya mimpi ke Paris.
Tidak lupa, masa SMA adalah masa puber dan cinta monyet, kalo di Laskar Pelangi, Ikal yang mengalaminya, kini giliran Arai yang jatuh cinta dengan wanita cantik teman sekelasnya bernama Zakiah Nurmala. Sedangkan Jimron jatuh hati kepada Laksmi, seorang gadis pemurung yang bekerja di pabrik cincau yang tak pernah lagi tersenyum, semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan kapal. Itulah yang mempertemukan Arai dengan musisi orkes melayu, Bang Zaitun, role model dalam urusan cinta di Belitong.
Secara keseluruhan, film ini memang menunjukkan ciri khas Riri dan Miles. Mereka mengeksploitasi keindahan Belitong, view-view indah dan warna yang menyegarkan mata terus menerus ditampilkan, diulang dan diulang hingga kadang membosankan. hehehe. Keduanya juga sukses mengarahkan aktor, aktris muda hasil audisi (ada yang asli Belitong juga ya?), terutama untuk karakter Arai, Jimron dan Zakiah (dari beberapa scene mirip Pevita Pearce, apa hanya halusinasiku ya?). Skenario yang ditulis Riri dan Salman Aristo juga cukup sukses mengangkat tema ‘Indonesia banget’, liat aja bagaimana keragaman suku di Indonesia dengan hadirnya beberapa karakter keturunan Tionghoa, atau menceritakan kerukunan antar umat beragama, dimana Jimron diantar ke pesantren oleh pamannya yang seorang pendeta. Film ini dapat menyampaikan ceramahnya dengan menyelipkan humor-humor yang membuat tertawa tapi juga miris, nyengar nyengir tidak jelas. Konflik antar sahabat, antar orang tua dan anak juga ditampilkan dalam film ini. Mathias Muchus bermain sangat bagus, si Oneng pun tetap tampak seperti Oneng walaupun sudah dimake-up tua dan ‘miskin’. Bagian konflik inilah yang banyak membuat rasa haru, terutama bagian Ayah Juara Nomer Satu di Dunia, langsung teringat jasa-jasa ayah selama ini. 😦 😦 . Nugie pun harus belajar logat Belitong, dan tampil retro dalam film ini, cukup sukses memberikan inspirasi lewat pelajaran mengutip kata-kata orang terkenal, bisa kamu ingat-ingat dan jadikan status facebook nantinya (jangan lupa untuk terus online lewat hape saat menonton film ini). Tapi yang cukup mengejutkan adalah kehadiran Nazril Irham/Ariel sebagai Arai dewasa, banyak reviewer yang memuji penampilan aktingnya disini, tapi saya pribadi tidak. A BIG NO!. Entah kenapa, imej Arai langsung jatuh saat melihatnya dewasa, secara fisik, raut wajah sih mirip, tapi gerak tubuh dan mimiknya itu terlihat memaksakan, seperti sudah bosan melihatnya karena selalu tampil di infotainment dan acara musik TV.

Overall, Sang Pemimpi adalah film Indonesia berkualitas yang menghibur (berbudget 12 m), sama seperti Laskar Pelangi, banyak pesan moral dan nilai positif disampaikan yang bagi sebagian orang bisa mengena nancep ke hati, tapi bagi sebagian lagi akan merasa seperti diceramahi habis-habisan. Film ini sukses membuat saya menahan pipis selama 1 jam (semoga gak kena kencing batu) dan ke toilet dalam hitungan detik saja karena tidak ingin melewatkan adegan selanjutnya. Ini adalah salah satu tanda film Indonesia terbaik tahun 2009. Ya kalo terlewat, tunggu saja di televisi tahun depan. hehehe.
Oya, mungkin karena bersetting di tahun 80 hingga 90 awal, bagian yang agak susah diakalin adalah saat Ikal dan Arai merantau ke Jakarta, tampak beberapa mobil masa kini seliweran di jalan. hehe, mungkin suatu saat Indonesia punya studio ala Universal Studios yang akan memudahkan cerita film bersetting masa lalu. Satu lagi, entah ini masalah intern bioskop (saya nontonnya di E-Pla** Semarang) atau tidak, tapi cukup mengganggu, musiknya suka leot-leot, atau adanya black screen cukup lama tiap ganti adegan, hal ini cukup merusak suasana dan feel dalam film ini. Untuk musik score, Aksan dan Titi Sjuman membuat film ini asik untuk dinikmati tiap adegannya, lagu melayu aslinya pun berhasil mengalahkan ST12 yang juga katanya melayu. Tapi, untuk urusan lagu penutup, Gigi tampaknya harus berada di bawah bayang-bayang Nidji yang sukses membuat lagu Laskar Pelangi begitu memorable. Saya jadi berpikir, kenapa Nidji merilis lagu Sang Mantan hampir bersamaan dengan rilis film ini, ada benang merahnya tidak ya?. Ahh, nevermind, walaupun di bagian ending settingnya agak memaksakan tapi membuat kita gak sabar menunggu film selanjutnya yang beneran bersetting di Eropa, tunggu saja tahun depan.
Jadi film ini layak tonton dan setelahnya susunlah mimpi-mimpimu, wujudkan jadi kenyataan. Bermimpilah yang baik, jangan mimpi basah melulu lewat film-film produksi orang India itu.

“Yang penting bukanlah seberapa besar mimpi kau. Tapi seberapa besar kau untuk mimpi itu.” – Pak guru Balia

More info : Wikipedia, Kaskus


Jimron, Ikal, Arai kecil


Ayah Juara Nomer 1



Para Pelopor Kita


Arai remaja (Ahmad Syaifullah)



Don Juan dari Belitong


Kepala Sekolah/Guru yang amat galak, sadis dah..



Idola para Pelopor, Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda)


Jadi pengen sekolah lagi…


Pak Balia (Nugie)


Argghh, serasa liat video klip


Arai dan Ikal, Sang Pemimpi


Bonus…

Goemon

2009/12/28 8 comments

Baiklah, setelah ditawari meminjadm DVD dari Burigifu yang membawa segepok layaknya lapak di glodok, saya memilih film ini karena adanya sang janda Ryoko Hirosue 🙂 :), daripada mendownload, lebih baik terima jadi apa adanya deh. hehehe
Goemon, hampir sama ajaibnya dengan Doraemon atau Si Emon (kalo yang ini non-Jepang, Catatan Si Boy) yang bernama belakang sama. Ishikawa Goemon adalah ninja bandit legendaris dari Jepang yang menyerupai Robin Hood dari daratan Inggris Raya. Berlatar belakang sejarah di tahun 1582, dimana saat itu Jepang sedang dalam masa damai tapi diliputi konflik politik perebutan kekuasaan. Karena berlatar belakang sejarah itulah nama Oda Nobunaga, Hattori Hanzo, Tokugawa Ieyasu, Hideyoshi Toyotomi sering disebut dalam dialog. Chacha (Maricha Hey Hey) dan Sasuke pun masuk dalam daftar pemeran utama. hehe. Plot dalam film ini pun sepenuhnya fiksi.

Adegan pembuka yang cukup baik, warna-warnanya dahsyat

Walaupun bersetting abad ke-15, tapi jangan ragukan kecanggihan teknologi Jepang saat itu, mulai dari peti besi yang super rumit, gaya pakaian yang colorful dan up to date, bahkan tarian ala Koda Kumi pun bisa ditemukan di film ini. Mungkin akan dianggap berlebihan oleh sebagian orang.
Film bergenre drama action ini dibuka cukup mengesankan dengan adegan pencurian di rumah seorang pejabat, Goemon berhasil mengelabui ratusan penjaga, menghindari busur, berkelahi di atap rumah, tidak lupa dengan bergaya depan hanabi (kembang api). Selain mencuri uang emas dan membagikannya ke orang-orang, ia juga mengambil sebuah kotak (disebutkan Pandora no hako), yang menjadi incaran penguasa saat itu, Hideyoshi Toyotomi.
Setelah mendengar kabar kalo Kotak Pandora itu sedang dicari-cari pemerintah, Goemon yang tidak sengaja membuangnya, berusaha mencarinya kembali, ia pun lalu bertemu dengan anak kecil dari kawasan kumuh, Koheita, yang menjadi korban kekejaman penguasa yang semena-mena saat itu. Berhasil menemukan dan membuka kotak itu, Goemon akhirnya mengetahui rahasia dan konspirasi pemerintah saat itu. Hideyoshi yang menjadi tokoh antagonis memang selalu beruntung hingga mendekati akhir film ini, jadi jangan gregetan kalo melihat orang ini, selalu lolos dari maut. Tidak lupa tokoh pemanis, Chacha, salah satu kerabat Nobunaga yang diperankan oleh salah satu aktris idola saya, Ryoko Hirosue yang masih tampak imut. 🙂 🙂

Saizou vs Goemon

Goemon, adalah seorang yatim piatu yang dipungut oleh Nobunaga lalu dilatih oleh shinobi legendaris, Hattori Hanzo. Dalam masa pelatihannya itu ia berteman dengan Saizou, yang bertekad akan menjadi seorang samurai yang dihormati. Setelah tragedi bunuh diri Oda Nobunaga di kuil Honno-Ji, Goemon lebih memilih untuk ‘bebas’ dan beralih profesi menjadi oodorobou (master of thief) sementara Saizou mengabdi pada pemerintah. Goemon yang selama ini menikmati kebebasannya sebagai pencuri, didampingi sang asisten, Sasuke, akhirnya kembali lagi bertemu dengan Saizou dan Chacha, dua orang sahabatnya di masa kecil dalam usahanya membalas dendam pada Hideyoshi.

Kazuaki Kiriya dan Utada Hikaru saat syuting klip Keep Tryin’

Kazuaki Kiriya, sang sutradara (menangani editing dan sinematografi) dan juga penulis naskah film ini kembali menampilkan ciri khasnya, full of CG. Bila kamu sudah menonton Casshern, maka akan banyak menemukan kesamaan dalam gaya pengambilan gambar diantaranya teknik superzoom (atau apalah namanya), slow-motion, cipratan darah, atau warna-warna fantasi ala RPG dan banyak efek lainnya. Kazuaki pula-lah yang menyutradarai beberapa video klip sang mantan istri, Utada Hikaru (2002-2007). Beberapa diantaranya bergaya mirip dengan Casshern atau Goemon (sulit juga kalo sudah ciri khas), bahkan penggambaran tokoh Chacha, mirip dengan Utada dalam klip Sakura Drops terutama poni dan rambutnya. Kazuaki Kiriya memang lebih dikenal sebagai seorang fotografer dan sutradara video klip. Setelah menyutradarai debut filmnya, Casshern yang cukup sukses, ia mencoba mengangkat legenda Ishikawa Goemon dengan sedikit mengubah alur ceritanya, (Spoiler) seperti pada adegan direbusnya Saizou yang ditangkap karena percobaan pembunuhan atas Hideyoshi, saat itu Saizou mengaku sebagai Goemon, padahal menurut legenda, Goemon-lah yang mati direbus. Ya namanya juga legenda, ada beberapa versi tentang legenda Goemon ini. Cerita Goemon sendiri sering dipentaskan dalam kabuki atau sebelumnya pernah dibuatkan video game berjudul Legend of the Mystical Ninja, disini Kazuaki Kiriya mencoba mix and match cerita, sehingga bagi yang familiar dengan cerita Goemon sendiri akan bingung karenanya.

Yôsuke Eguchi, aktor dan juga penyanyi yang mungkin lebih dikenal lewat dorama Kyumei Byoto 24 Ji atau Unfair berperan sebagai Goemon, ikut menemani Takao Osawa (Saizou Kirigakure), Ryoko Hirosue (Chacha Asai), Jun Kaname (Mitsunari Ishida), Hashinosuké Nakamura (Nobunaga Oda), Eiji Okuda (Hideyoshi Toyotomi), Susumu Terajima (Hanzo Hattori), bahkan Kazuaki Kiriya pun sempat tampil beberapa detik sebagai Mitsuhide Akechi. Deretan aktor tersebut (plus Ryoko Hirosue) terlihat tidak maksimal dalam film ini, mungkin karena terlalu mengandalkan layar biru, layar hijau (dan layar tancap) pada latar belakangnya. Dalam film ini juga banyak adegan absurd, bahkan annoying (salah satunya adegan pertarungan antara Goemon dan Saizou di padang rumput). Jepang bahkan tampak lebih mirip dengan Yunani atau Romawi kuno, dengan prajurit berzirah besi (lebih tampak seperti pasukan Storm Troopers di Star Wars), patung-patung, dan istana yang kelewat megah, lebih tampak seperti game RPG daripada film. Film ini sebenarnya cukup menghibur dari segi cerita, disertai dialog penuh makna ala Jepang. Tapi karena beralur lambat (ciri khas film Jepang), akan terasa membosankan, apalagi visual efeknya yang terlalu berlebihan dan kurang menyatu menjadi nilai minus dalam film berdurasi 128 menit ini apalagi cerita dalam film ini kebanyakan seputar konflik politik dan pengkhianatan demi perebutan kekuasaan.
Tapi kalo kamu menyukai Casshern dan efek Computer Graphic melimpah disana sini, tidak ada salahnya mencoba film yang dirilis 1 Mei 2009 lalu ini. Dan sebaiknya Kazuaki Kiriya mulai belajar membuat film yang lebih realistis dan tidak menyerahkan 90% filmnya pada efek CG yang sedikit mengecewakan. Kalo di Indonesia, Kazuaki Kiriya ini mungkin mirip dengan Rizal Mantovani. 🙂 🙂
Yah, namanya juga film, ada kekurangan dan kelebihan, jadi dinikmati saja, hehe. Apakah Goemon berhasil membalaskan dendamnya?

Hattori Hanzo (kiri) & Oda Nobunaga (kanan)
Goemon & Sasuke
Chacha, wah Ryoko-chan masi imut, hehe
Saizou (Takao Osawa)
Hideyoshi Toyotomi (Eiji Okuda)
Mitsunari Ishida, kanan (Jun Kaname)
Serasa di surga, hehehe
Lah ini serasa di Romawi kuno

Sumber : Nippon Cinema, Warner Bros Goemon, Goemon Movie

Tags: , ,

Menghitung hari bersama Summer

2009/12/25 4 comments


The Temper Trap, sang vokalis, Dougy Mandagi, berdarah Manado
Official Website, MySpace

Film yang banyak mendapatkan review bagus di berbagai situs dan blog, di imdb bahkan mendapat rating 8,1/10!!. Juga direkomendasikan oleh salah seorang teman, Burigifu, 🙂
Awalnya sih tidak begitu tertarik dengan film bergenre rom-com (romantic comedy), karena kebanyakan mempunyai jalur cerita standar, happy ending, klise dan tidak realistis. Tapi saat melihat file ber-ekstensi avi teronggok begitu saja dalam sebuah flash disk berukuran 2 gb, langsung naluri copet saya bertindak dengan menggunakan jalur singkat, ctrl+c, ctrl+v. Tidak lupa folder berisikan soundtrack-nya. Done.
Ups, ternyata bukan dvd-rip, subtitlenya pun Indonesia, hardsub lagi. Well, persetanlah, yang penting nonton dulu ni film yang digadang-gadang sebagai rom-com terbaik tahun ini. Ditambah lagi film ini tidak masuk ke bioskop Indonesia, hanya ditayangkan di Jiffest beberapa waktu lalu. As we all know, bioskop di Semarang sucks!! (nulis kek gini gak bakal dituntut kan?). 🙂 🙂

(500) Days of Summer, dibuka oleh author’s note yang cukup menggelitik dan menohok (bagi yang merasa, lol). Ok, interesting. Dilanjutkan dengan narasi yang lucu dan lagu opening dari Regina Spektor yang cocok banget. Film ini lalu bercerita tentang petualangan cinta selama 500 hari oleh seorang pria biasa (rata-rata) bernama Tom Hansen yang naif dan polos diperankan dengan sangat baik oleh Joseph Gordon-Levitt. Seorang sarjana arsitektur yang terdampar di sebuah kantor yang menangani desain kartu ucapan. Di antara hari-harinya yang juga biasa itu, datanglah Summer Finn (Zooey Deschanel) sekretaris bos-nya. Tom sangat tergila-gila pada Summer, ia percaya Summer adalah takdirnya, wanita yang dicarinya selama ini, tapi sayangnya Summer bukanlah tipikal wanita yang percaya dengan cinta, ia tidak ingin punya kekasih dan terikat. Summer adalah seorang wanita mandiri, independen dan juga misterius, walaupun ukuran tubuhnya rata-rata, tapi ada yang aneh dalam perjalanan hidup Summer, karenanya dikenal Summer’s Effect. (lol, gak penting ini narasinya). Sepertinya Tom memang terkena Summer’s Effect. Keduanya pun lalu (seperti) berpacaran tapi tanpa status, semua terasa indah dan berbunga-bunga bagi Tom juga bagi Summer yang tidak mempedulikan ikatan, asalkan merasa bahagia. Tapi ketika Summer (tiba-tiba) memutuskan untuk pergi dari kehidupan Tom, semuanya berubah, hati Tom hancur berkeping-keping (hayah), ia kehilangan semangat, sangat amat depresi dan putus asa, bahkan mempengaruhi kinerjanya di kantor (well, sedikit berlebihan memang). Ia bahkan berkonsultasi dengan adik perempuannya Rachel (Chloe Moretz) yang digambarkan sangat dewasa (anak jaman sekarang memang cepat dewasa, terutama masalah percintaan), juga dua sahabatnya McKenzie (Geoffrey Arend) dan Paul (Matthew Gray Gubler). Ceritanya pun mengikuti angka yang mewakili pasang surut kehidupan cinta Tom, misalnya (1) adalah hari dimana ia bertemu Summer, tiba-tiba melompat ke angka 200an, dimana saat Summer memutuskan hubungan, dan begitu seterusnya hingga sampai ke angka 500.
Walaupun gaya bercerita dalam film ini tidak biasa, tapi sangat menyenangkan untuk diikuti, selingan humornya menghibur, visualisasinya sangat baik, chemistry antara Tom dan Summer pun sangat terjalin dengan baik. Ya, walaupun banyak menampilkan adegan-adegan cheesy ala film romantis, tapi cukup menghibur kok. Lagu-lagu pengiringnya (Soundtrack) pun dipilih dengan sangat baik, mulai dari The Temper Trap (lagunya Sweet Disposition enak bangett dan katanya sang vokalis orang Indonesia!!), Carla Bruni, sampai The Smiths, semuanya mewakili tiap adegan dalam film ini. OK, bagian endingnya mungkin tidak banyak yang suka, terutama bagi para wanita, hehe, tapi itulah yang membedakannya dari film rom-com biasa, sejak awal kan sudah dinarasikan, ‘This is a story of boy meets girl. But you should know up front, this is not a love story‘. Banyak yang kasihan dengan Tom yang kekanak-kanakan, tapi Summer terlalu mempesona (cantik) untuk dibenci, plot yang sangat mempermainkan emosi penonton. Yeah, reality hurts sometimes. Endingnya pun cukup menohok, mending jangan nonton bareng pacar deh. Karena tampaknya film ini lebih banyak berpihak ke sudut pria (Tom). Bagaimanapun Summer (musim panas) terkadang menyebalkan tapi setelahnya pasti akan datang Autumn (musim gugur) :p
Maka pantas saja film ini mendapat review dan rating sangat baik, Marc Webb sebagai sutradara berhasil menggabungkan semua unsur penting dalam rom-com movie dan mengemasnya secara tidak biasa, didukung chemistry juga akting dua tokoh utama Tom dan Summer sangat natural, script serta visualisasi yang sangat baik dan fun. Pokoknya Tom Hansen is Joseph Gordon-Levitt, dan Summer Finn is Zooey Deschanel, vice versa too. The Best Rom-Com of The Year. Titik.

I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps.

It’s official. I’m in love with Summer.

Lihat percikan senyawa kimia di mata mereka

Mari berteriak Pen*s dengan lantang di taman

Apakah akan berakhir bahagia?

Film ini juga mendapatkan nominasi Golden Globe Awards untuk kategori Best Picture (Musical/Comedy), dan Best Actor (Musical/Comedy). Apakah akan berhasil memenangkan penghargaan tersebut? tunggu saja 17 Januari 2010.

Younha, the girl next door

2009/12/20 20 comments

Kalo sekarang sepertinya lagi terserang demam Korea, dengan SuJu, Big Bang, f(x), Wonder Girls, SNSD atau apapun namanya, harusnya kalian mencoba artis yang satu ini. Younha. Ya bila dibandingkan dengan SNSD yang lagi booming banget, (bahkan ada forum SNSD hater segala!) mungkin gadis yang satu ini gak ada apa-apanya. Tapi kalo kamu mencari bakat yang tidak sembarangan, akan ada dalam diri Younha. Wajah, ya standar Korean-chicks (terkesan sederhana) tapi kemampuannya bermain piano yang ajib, memetik gitar (baru belajar sepertinya), mencipta lagu, dan berbahasa Inggris yang fasih (mengcover lagu dari Bon Jovi dan Kelly Clarkson) sepertinya tidak ada dalam diri artis wanita lain yang hanya menjual gaya provokatif, kaki jenjang dan mulus yang bahkan lalat pun bisa terpleset (baca SNSD). Bahkan range vokalnya bisa mencapai genre rock, pop, ballad, jazz, blues, setidaknya itulah yang diakui oleh beberapa pemerhati K-pop di dunia nyata dan maya. Younha-lah satu-satunya artis Korea yang album Hangul-nya rela saya cari di dunia maya, walaupun bahasa-nya tidak mudah dimengerti apalagi dieja, tapi aura musisinya lebih mengena di hati. Belakangan disebutkan, Younha sedang apes karena tidak ditangani tim promosi yang baik. Terbukti dalam beberapa tahun belakangan ini, rilisan Jepang-nya kurang greget. Tapi di Korea, rilisan albumnya selalu menempati urutan pertama!.

Nama : Go Yoon-ha 고윤하 (Korea), Yunna ユンナ (Jepang), Younha
TTL : Seoul, 29 April 1988
Genres : J-Pop, K-Pop, pop rock, ballad
Labels : Epic Records (Japan, 2004-2007), Geneon Entertainment/Sistus Records (Japan, 2008-sekarang), Stam Entertainment (South Korea, 2006-sekarang)

Oke, seperti yang kalian tahu, Younha dikenal di Jepang lewat lagu-nya Houki Boshi yang kebetulan diplot menjadi salah satu soundtrack anime Bleach. Penjualan single tersebut laris manis, hingga ia dijuluki Oricon comet. Saat itu ia baru berusia 16 tahun, memilih untuk merantau ke Jepang untuk mengikuti jejak idolanya, Utada Hikaru dan Misia. Gadis kelahiran Seoul, Korea Selatan ini telah belajar bermain piano sejak usia 4 tahun, saat remaja dia belajar bahasa Jepang dari hobinya menonton dorama Jepang. Lalu, ia mulai tertarik dengan musik Jepang lewat Utada Hikaru dan Misia yang kebetulan direkomendasikan beberapa temannya.
Ia pun berusaha untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang penyanyi dengan mengikuti audisi, dikatakan sekitar 20 audisi telah diikutinya. Dan menurut pengakuan Younha, ia mendapat penolakan dari beberapa label, karena tidak dianggap cukup cantik walaupun telah bernyanyi dengan amat baik (dunia memang kejam!!). Akhirnya, setelah seorang produser dorama mendengar demo tape-nya, single Yubikiri-nya terpilih menjadi lagu pengisi dorama Fuji TV Tokyo Wankei ~Destiny of Love~, yang kemudian di bulan Oktober 2004, ia merilisnya menjadi single debut resmi, Yubikiri ~Japanese version~.
Single kedua, Houki Boshi menjadi hit dan berhasil menembus top 20 Oricon chart, menjadikannya artis Korea kedua setelah BoA yang berhasil menembus top 20 Oricon chart (Jepang). Tapi beberapa single setelahnya mengalami penurunan, kemungkinan karena kurangnya promosi oleh labelnya saat itu Epic Records. Setelah merilis 5 single, Younha akhirnya merilis album pertamanya, Go! Younha dan menembus top 10 Oricon chart.
Ketidak beruntungan tidak berhenti setelah merilis album pertamanya, single berikutnya pun tidak terdongkrak angka penjualannya, semuanya dianggap gagal (lagi-lagi karena buruknya promosi). Walaupun telah terbantu dengan menjadi lagu tema beberapa anime dan game. Younha akhirnya merilis single Koreanya, Audition (Time 2 Rock). Lagu pop rock ini cukup sukses di Korea karena mendapat banyak perhatian dan promosi, sebagai hasilnya single ini berada di puncak chart selama 3 bulan.
Berbanding terbalik dengan Jepang, Younha sangat sukses di Korea, selain angka penjualan album pertamanya, 고백하기 좋은 날 (Gobaekhagi Jo-eun Nal/The Perfect Day to Say I Love You) sangat tinggi, ia juga mendapat beberapa penghargaan di tahun 2007 salah satunya sebagai Best New Solo Artist. Ia pun tidak lupa untuk merilis album Go! Younha versi Korea. Masih belum puas menaklukkan Jepang, tahun 2008, Younha merilis album Best of dan DVD berjudul SONGS -Teen’s Collection-.
Merasa bosan di Jepang, Younha kembali merilis album Korea keduanya, Someday (28 Agustus 2008) dan terhitung cukup sukses. Begitu juga dengan album ketiganya, Part A: Peace Love & Ice Cream (16 April 2009) yang membawa imej cute, girly dan Younha yang lebih fresh. Younha juga telah menyelesaikan film Jepang pertamanya berjudul 今度の日曜日に (Kondo no Nichiyoubi ni, This Sunday) yang dirilis pada bulan April 2009 lalu. Dalam film ini Younha juga menyanyikan lagu berjudul 虹の向こう側 (Niji no Mukougawa, On the Other Side of the Rainbow). Ia pun mencoba peruntungannya kembali di Jepang dengan merilis single Girl (22 Juli 2009) dan single terbaru, Sukinanda (November 2009).
Untuk menutup tahun 2009 ini, Younha merilis chapter kedua dari album Korea-nya, Part B : Growing Seasons. Sekaligus merayakan 5 tahun berkarir sebagai penyanyi. Younha tidak hanya berbakat sebagai penyanyi, tapi juga berpotensi sebagai penulis lagu. Yang pasti Younha-unni makin matang dalam bermusik. Just Googling or Youtube-ing for more.. 🙂 🙂

Younha (윤하) – Growing Season (3rd album part B)
Rilis : 11 Desember 2009
Genre : Pop, rock, jazz, blues, ballad

01. Say Something
02. 오늘 헤어졌어요 (Broke Up Today)
03. 좋아해 (I Like You)
04. 편한가봐 (Must Be Easy)
05. 헤어진 후에야 알 수 있는 것 (Duet with 김범수) (Realize After Break Up (with Kim Bum Soo))
06. LaLaLa
07. 스물두 번째 길 (22nd Street)
08. 오늘 헤어졌어요 (Inst.) (Broke Up Today)
09. 헤어진 후에야 알 수 있는 것 (Inst.) (Realize After Break Up)
Lirik album ini

Ok, lagi-lagi kasus salah promosi terjadi lagi di album Younha kali ini. Kadang terjadi kan? seorang penyanyi mempunyai banyak lagu yang bagus dalam albumnya, tapi mereka memilih lagu yang standar dan kurang mewakili untuk promosi album tersebut. Hal inilah yang sering terjadi pada Younha.
Younha kembali ke scene K-pop, dengan mempromosikan track 2, Broke Up Today, sebuah lagu ballad yang cukup membuat bosan, dan tidak menunjukkan energi yang ada dalam albumnya ini.
Say Something, adalah sebuah lagu rock ballad, yang menampilkan kemampuan vokal Younha dengan sangat baik, melodi dan musiknya terasa cukup familiar, easy listening, lil bit sounds like Kelly Clarkson i think. Di lagu ini juga menunjukkan ciri khas vokal Younha yang kuat dan bertenaga di nada tinggi yang merupakan trademarknya. Lagu pembuka yang cukup nonjok.
Next, We Broke Up Today, yang terpilih sebagai lagu hit dalam album ini. Sebuah lagu ballad yang indah (walaupun gak tau artinya) dan pasaran, Younha menyanyikannya dengan baik, tapi karakter vokal Younha kadang terasa kurang cocok untuk lagu soft seperti ini. Ditambah liriknya yang -seperti dibilang sebelumnya- pasaran, membosankan, dan berulang-ulang. Mudah dilupakan.
Lagu ketiga, I Like You, lagu yang membawa aura fun, upbeat poprock. Melodi gitarnya cukup kencang dan kuat sejak awal, walaupun dibawakan berulang, tapi tidak membosankan, memorable, cukup nikmatlah terutama di bagian reff. Lagu ini juga membawa imej fresh dan berjiwa muda, standar scene K-pop.
Must Be Easy, adalah lagu ballad diiringi banyak string dan sangat menonjolkan kemampuan vokal Younha. Sedikit cooling down dari track I Like You.
Lagu kelima, Realize After Breaking Up, membawa aroma jazz dan blues yang di-mix untuk dibawakan duet bersama Kim Bum Soo. Vokalnya terdengar sangat padu ditambah lagi, Younha dikenal sebagai dueter (duetist?) yang baik. Lagu melankolik dengan suasana jazzy. Interesting.
LaLaLa, lagi lagi lagu jazz, sepertinya Younha mencoba merambah jazz dalam album ini. Improvisasi yang dilakukan oleh Younha dalam lagu ini cukup fun untuk didengarkan, terdengar gembira. Mungkin bila kamu penggemar SNSD, terutama lagu Gee, kamu harus mendengar covering yang dibawakan oleh Younha with jazzy style!, lagu ini tipikal dengan LaLaLa. Nice!
22nd Street, lagi-lagi lagu ballad, kali ini Younha menunjukkan kemampuan ber-pianonya, diiringi gitar akustik menjadi unsur positif dalam lagu ini.
Terdengar pelan di awal lagu, tapi makin lama makin jelas, seakan melihat matahari terbit secara perlahan. haha. Lagu ballad yang sangat kuat dan cocok dijadikan lagu penutup di album ini, karena 2 track sisa adalah versi instrumental dari track 2 dan 5. Disediakan buat kamu yang pengen karaoke suatu saat nanti di Seoul. (lol)
Recommended tracks : 1, 3, 5,7,

Well, kalo kamu mencari artis Korea yang berbakat, cukup imut (di beberapa pic), dan tipikal girl next door, bebas gosip miring (ada forum haternya gak sih?), dikenal/mengenal semua orang (artis Korea), dan menyenangkan, try Younha. Karena tercatat, artis papan atas seperti Kara, Wonder Girls, Ajoo, FT Island, DBSK, sahabatan dengan Taeyeon (SNSD), BoA (sepertinya mereka saingan), Bada (yang aku tau cuma BoA, lol). Oya, Younha ini kadang mirip Sherina loh, hehehe.





ouch, siapa bisa menolak cewe imyut berkacamata seperti ini?

OK, chicks with guitar, hmmm

Tags: , ,

Omiyage dari Jepang

2009/12/16 2 comments

Omiyage – Kisah Orang Biasa Menaklukkan Tanah Jepang
Penulis : Silvia Iskandar,
Penerbit : Andi Publisher
Tgl Penerbitan : 13 November 2009
Halaman : xii+276 halaman

Adalah catatan perjalanan perempuan biasa yang bergelut dengan budaya yang sama sekali baru. Dia tak mungkin menentang arus, tapi juga tak ingin larut. Repot juga ternyata. Manalagi budaya Jepang tidak se-simple yang ia dengar dari radio, televisi, atau yang ia baca dari majalah. Menyerah, ah rasanya terlalu cepat untuk dilakukan.

Detail-detail narasi yang masih hangat ini tersampaikan dengan sangat baik sehingga memudahkan para pendengar untuk turut larut dalam suasana Jepang terkini
(Atsushi Kanai – Director General The Japan Foundation, Jakarta)

Silvia watched Japanese society from the inside as an international student or a staff of pharmaceutical company in Japan. This book is her fictional autobiography while staying in Japan. I was her supervisor when she was a graduate student of Waseda University. This book vividly reminds me of those days. Although she appeared to adapt to Japanese life and looked cheerful and happy, she had complex feelings of dream, hope, disappointment, and worrying about the future. Readers will share adolescent angst. I hope this book serve to introduce Japanese culture to Indonesian people.
(Takashi Funatsu – Professor Graduate School of Pharmaceutical Sciences, The University of Tokyo, Japan)

Buku ini “a must read”. Cerita dikemas dengan menarik bahkan banyak informasi yang detail mengenai Jepang dan kebudayaannya yang tidak akan ditemui di tour guide/buku2 umum mengenai Jepang (life style, study life, dll). Mau tahu kehidupan Jepang yg sebenarnya sekaligus menaklukkannya? Learn from this book… 🙂
(Jimmy Lawrence – mantan mahasiswa di Jepang)

Dengan sudut pandangnya yang tajam, Silvia-san menuliskan hal-hal yang kurang terpikirkan oleh orang Jepang sendiri, dan dengan membaca buku ini, saya pun belajar banyak hal. Saya harap Silvia-san terus berpartisipasi dalam membangun pengertian yang riil antar kedua negara, Jepang dan Indonesia.
(Ishitani Takashi – Produser Acara Radio TOKYO BEAT)

Oke, itulah testimonial yang tertulis di bagian belakang cover buku ini. Omiyage judulnya, dengan sub judul Kisah Orang Biasa Menaklukkan Tanah Jepang. Buku ini secara ‘tidak sengaja’ saya temukan di sebuah toko buku diskon GAS ATOM (nama samaran didapat melalui program anagram). Kesan pertamanya agak kurang menarik memang, karena jujur saja, covernya terlihat murahan, seperti dipaksakan ke-Jepang-jepangan, ya pokoknya begitulah. Iseng-iseng baca testimonialnya, wah orang Jepang banyak yang ngasih komentar, orang Jepang itu terkenal jujur dan blak-blakan dalam mengomentari hasil karya orang, terutama orang asing (ya mungkin juga sih basa-basi), tapi rata-rata mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka keluarkan dari mulutnya. So, rasanya cukup worthed beli buku ini, harganya pun cukup murah, tebal lagi. Sip lah. Kali ini pepatah Dont Judge The Book By Its Cover benar benar terbukti. (itu tulisan Inggrisnya bener gak ya?)
Next, mencoba membaca secara cepat, istilahnya apa ya?review?quick read?. Mulai dari chapter awal yang menceritakan sang penulis, Silvia Iskandar bisa lulus dari ujian penerima beasiswa Monbusho, padahal teman-temannya langganan olimpiade fisika, kompetisi kimia dan penyumbang tetap piala untuk lemari sekolah, sementara ia cuma juara 3 lomba puisi se-yayasan sekolah dan juara harapan 1 lomba aerobik Kursus Senam Ci Mei (gak penting banget!). Well, rakki desu ne. Silvia-san memang lagi dinaungi banyak keberuntungan.
Dalam buku ini juga pastinya menceritakan petualangan Silvia-san di negeri sakura selama hampir 10 tahun (1997-2006). Pengalamannya saat kuliah, berinteraksi dengan orang Jepang, masyarakat dan kulturnya. Tidak lupa juga diselipkan sedikit penjelasan singkat tentang budaya Jepang, misalnya saat Silvia menonton pertandingan sumo, disitu ia juga menjelaskan tentang rangking pesumo dan bagaimana badan pesumo bisa menjadi sebesar itu, atau gaji seorang Yokozuna (pesumo dengan rangking 1) bisa mencapai 2 juta yen per bulan. Pokoknya banyak hal-hal menarik yang diselipkan di antara catatan perjalanan Silvia-san di Jepang, tidak melulu berisi curhatan gak penting dan membosankan saja. Benar-benar menambah pengetahuan tentang Jepang. Dan itu hampir ada di tiap babnya, sedangkan di buku ini ada 50-an bab (ada yang pendek juga).
Cerita lucu juga diselipkan seperti saat ia jatuh hati dengan seorang pemuda Malaysia saat masih bersekolah di sebuah Nihongo Gakkou. Sangat menghibur.
Kisah ini juga sempat dijadikan cerita bersambung dalam program radio Tokyo Beat yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation Jakarta dan disiarkan ke berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia dalam rangka Tahun Persahabatan Indonesia Jepang 2008 (Semarang ada gak sih?). Buku ini berisi kumpulan cerita tentang Jepang, baik ilmiah, seni, budaya dan sejarah. Dalam kata pengantarnya sendiri, Silvia-san berharap buku ini dapat memperluas wawasan pembaca akan budaya Jepang, bukan hanya yang sudah populer, seperti manga atau karaoke, tapi juga cara berpikir dan gaya hidup orang Jepang. Semoga menjadi oleh-oleh (Omiyage) yang bermanfaat.
Jadi, buku ini memang layak kamu baca, koleksi dan menghiasi rak buku di kamar kamu, nantinya bisa diwariskan ke anak cucu juga kok. 🙂 🙂

Tags: ,

Zombieland

2009/12/14 24 comments

Hehe, baru aja selesai mengunduh sebuah film bertemakan zombie berjudul ZOMBIELAND (haha). Baca-baca di beberapa situs review, film ini cukup direkomendasikan baik dari segi cerita dan efek. di IMDB pun dirating cukup tinggi!! 8.0/10, wow. Ya walaupun penilaian ini tergantung selera masing-masing penonton, tapi setidaknya sudah cukup kuat alasan untuk segera menonton film ini sebelum beredar VCD original atau membeli DVD bajakannya. Apalagi menanti di bioskop kesayangan kita. Cih, di Semarang mana mau?? filmnya Indonesia mulu. Paraaahh.
Ok, back to topic, Zombieland, dibuka oleh narasi dari tokoh utama, bernama Colombus, yang menceritakan bagaimana dunia ini diserang virus zombie sehingga akhirnya menjadi Zombieland. Ia sendiri survive karena mentaati peraturan yang ia buat sendiri, misalnya. SURVIVAL RULE #1, CARDIO (yang gendut pasti jadi santapan), RULE #2 THE DOUBLE TAP (tembak 2x di kepala), dan banyak lagi RULE yang diceritakan dengan lucu oleh Colombus. Disertai adegan tipikal film zombie dengan gaya slow mo, dan editing yang cukup baik (kurang ngerti bahasa perfilman, pokoknya gitulah) Adegannya cukup gore, bloody, dan daging berserakan dimana-mana.
Di kesendiriannya di The United States of Zombieland, ia bertemu dengan Tallahassee, (cowboy yang terobsesi ama Twinkies, snack krim yang semakin langka sejak Zombieland berdiri) FYI, semua tokoh utama di film ini memakai nama kota di US (kalian akan tahu bila sudah menontonnya). Lalu mereka bertemu dengan 2 orang cewe, kakak adik, Wichita dan Little Rock, dimana mereka sempat mempunyai konflik, saling curiga dst dst, hingga akhirnya bersatu menjadi keluarga pembasmi Zombie, zombusters, hahaha (yang ini boongan), soalnya ada film Ghostbuster dalam film ini.
Ya, sesuai temanya, pastilah bakal banyak darah, adegan sadistis, wajah seram, daging dan usus muncrat, kepala pecah, dan banyak lagi dalam rangka memusnahkan zombie, semuanya disampaikan dengan cukup elegan dan baik dalam film ini. Colombus yang dulunya seorang loser, berubah menjadi pejuang (cukup) tangguh, ditemani Tallahassee yang lebih tangguh tapi sok pamer kekuatan, Wichita yang sangat menggoda, dan Little Rock yang polos (atau bodoh?), semuanya bertemu karena tujuan yang sama. Intinya survive lah, diselingi bumbu percintaan antara Colombus dan Wichita, drama kesedihan Tallahassee, dan guyonan-guyonan ala Amerika, ada juga sindiran terhadap artis tertentu. Ya semacam dark humor gitu, tapi cukup menghibur, haha, apalagi pas kejadian salah tembak sang cameo, Bill Murray. Semuanya menyertai dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang zombie-less. Apakah mereka akan berhasil menuju tempat yang dimaksud? Apakah mereka akan survive?

Sebelum kebablasan menceritakan semua film dan menjadi spoiler kelas berat, mending ditutup aja lewat quote dari Tallahassee.
NUT UP OR SHUT UP.

More infos : imdb






Opening filmnya yang cukup konyol, hayo siapa yang mau dikejar stripper zombie?


Colombus



Tallahassee (mbacanya gimana ya ni?), sok pamer, tapi emang kuat si.


I’m so fuckin sorry!!!



Do it with style, jangan lupa bawa banjo (?) saat membasmi zombie


Wichita (Emma Stone), this girl is kick my ass!! *hayah*


Jangan lupa aturan kita, jangan percaya orang lain, okei sis?


Ayolah guys, act like normal-ass Americans!


Hai, mau minum bersama saya?


Enjoy the ride!


Oiya, lupa basmi zombie ya?

Tags: ,