Archive

Archive for April, 2010

Coldplay vs The Simpsons

2010/04/08 7 comments


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Coldplay muncul juga sebagai Cameo di The Simpsons. Tokoh animasi Coldplay ini tampil di serial The Simpsons, yang merayakan 20 tahun penayangannya.
Diceritakan kalo Coldplay tampil di sebuah private gig untuk Bart dan Homer, setelah Homer memenangkan lotere berhadiah sejuta dollar.
Bukan The Simpsons namanya kalo nggak ada kejadian konyol. Salah satunya adalah saat Coldplay lagi memainkan Viva La Vida, di tengah lagu Bart meminta band untuk berhenti main, soalnya dia pengen ke wc.

Salah satu dialog lucu juga terjadi antara Chris Martin dan Homer.
Chris Martin: “So where are you from Homer?”
Homer: “Here”
Episode yang berjudul Million Dollar Maybe ini telah ditayangkan di US pada akhir Januari lalu (CMIIW) dan baru ditayangkan di UK pada bulan Mei. Coldplay mengikuti jejak R.E.M., U2, the Who, Sir Paul McCartney dan juga Green Day (list artisnya bisa dibaca disini) untuk tampil di serial konyol tersebut. Douch!!

Proses pembuatannya

Versi lengkapnya bisa diliat versi streaming disini, soalnya gak bisa di embed.

Yes, i love Coldplay and The Simpsons.

Shutter Island vs Pintu Terlarang

2010/04/08 10 comments

Don’t you get it? You’re a rat in a maze.

Martin Scorsese kembali bekerja sama dengan aktor kesayangannya, Leonardo DiCaprio, setelah sebelumnya sukses lewat The Departed, The Aviator dan Gangs of New York. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Dennis Lehane (penulis Mystic River) dan dibantu oleh Laeta Kalogridis (penulis Avatar, dan kabarnya sedang mengerjakan Battle Angle Lalita dan Ghost In The Shell, adaptasi manga dan anime dari Jepang).

Film ini bersetting di tahun 1950-an, bercerita tentang 2 orang U.S Marshall, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan partner barunya Chuck Aule (Mark Ruffalo). Keduanya ditugaskan dari Boston untuk menyelidiki kasus menghilangnya seorang pasien bernama Rachel di sebuah rumah sakit jiwa Ashecliffe di Pulau Shutter (Shutter Island). Sejak awal film ini, kita digiring untuk membayangkan betapa angker dan menakutkannya Pulau Shutter, warna-warna gelap nan mencekam ikut mendukung ke-misterius-an pulau tersebut. Pulau yang terisolir dan dikelilingi para penjahat kelas kakap yang mengalami sakit jiwa akut (criminally insane kata Teddy), bayangkan gimana rasanya kalo terjebak disitu. Ditambah scoring film ini yang sangat mendukung sepanjang cerita. thumbs up!!
Dalam penyelidikannya, Teddy menginterogasi pimpinan rumah sakit tersebut, Dr. Cawley (Ben Kingsley), berikut para perawat, sipir dan beberapa pasien lain. Teddy merasa ada yang aneh dengan rumah sakit tersebut. Banyak teka teki juga konspirasi yang menghadangnya dan semuanya seperti ditutup-tutupi oleh para penghuni rumah sakit itu. Apalagi setelah Teddy mengetahui bahwa ada pasien ke 67 di rumah sakit itu, padahal sebelumnya dikatakan hanya 66 pasien yang terdaftar. Siapakah pasien ke 67 itu?

Suasana makin menegangkan karena kabarnya rumah sakit itu adalah tempat percobaan ilegal pemerintah yang menjadikan para penjahat sakit jiwa itu sebagai objek untuk ‘dibantai’ di mercu suar misterius di Pulau Shutter. Ditambah lagi sempat terjadi badai yang memutuskan aliran listrik, memporak porandakan rumah sakit hingga para pasien panik dan ‘kabur’. Makin horor kan?

Mimpi buruk atau halusinasi makin sering dialami Teddy sejak berada di pulau itu, mimpi tentang istrinya Dolores (Michelle Williams, ni cewe pernah maen di serial remaja yang booming banget, Dawson’s Creek) yang telah meninggal karena dibunuh oleh pria misterius bernama Laeddis yang kabarnya juga berada di rumah sakit itu, atau ingatannya (traumatis) saat ikut berperang melawan Nazi, hingga hantu istrinya yang sering muncul di rumah sakit itu. Teddy tidak tahu lagi antara kenyataan atau fiktif.

Not Martin’s best work, but come on, could you make a better movie than him?


Walaupun berdurasi cukup panjang (2 jam 30 menit-an), film arahan Martin Scorsese ini tidak membuat bosan, (sama seperti saya menikmati The Departed) ceritanya seakan mengalir dengan rapi dan menimbulkan rasa penasaran juga deg-degan sepanjang film. Twisted plot, mind blowing conflict (hayah) dalam film ini menjadikan kita menebak-nebak endingnya. Ditambah kualitas akting yang baik menjadikan film ini worth it untuk ditonton, apalagi bagi para pecinta film thriller. Nah sekarang pertanyaannya adalah :
Apakah benar para dokter itu melakukan perawatan radikal dan ilegal terhadap para pasien rumah sakit jiwa itu?
Siapa pasien ke 67 yang misterius itu?
Berhasilkah Teddy menangkap Laeddis?
Misteri apa yang terjadi di rumah sakit itu?
Temukan jawabannya di akhir film. Ya sedikit telat sih, karena film ini sendiri dirilis awal Maret lalu, tapi karena berhubung bioskopnya agak terbelakang dan idiot, terpaksa memakai jalan belakang. hehehe. Jadi kalo kalian suka film thriller psikologi dan penuh puzzle, better watch it on DVD, with a good quality off course. Atau kalo perlu beli yang original, biar lebih puas rasa mencekamnya. hehe.

Film ini terasa classic, dark, dan twisting. It will twist your mind from the beginning until the end. Mungkin alurnya akan terasa lambat di awal film, namun apabila anda sabar menunggu sampai akhir film anda pasti akan bergumam ‘ohh begituuu..’ (jagoanmovies.blogspot.com)



Paramount Pictures
Cast: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Max von Sydow, Michelle , Emily Mortimer, Patricia Clarkson, Jackie Earle Haley, Ted Levine
Written by: Laeta Kalogridis (screenplay), Dennis Lehane (novel)
Directed by: Martin Scorsese
More Info : imdb

***

Nah, kebetulan saya men-follow twitter seorang sutradara bernama Joko Anwar, karena menurut rekomendasi temen, komen-komennya lucu, menghibur, kritis, jadi bukan karena dia sutradara, hehehe. Jujur saja, saya antipati dengan film-film Indonesia era milenium, ya walopun sebelum milenium juga sama aja. Ya intinya rada males dengan film Indonesia, kecuali emang bener-bener yakin bagus dan gak rugi nonton di bioskop, seperti Cintapuccino. 🙂 🙂 🙂
Balik ke masalah follow unfollow itu. Waktu baru ‘heboh-heboh’ nya Shutter Island di Indonesia, di timeline saya muncul statement seperti ini.

wah becanda ni mas-nya…

What? apa itu Pintu Terlarang? siapa itu Gambir? nah dari situlah, saya memutuskan untuk menonton film berjudul Pintu Terlarang (2009), karya Joko Anwar. Dan ternyata, film ini juga merupakan adaptasi dari sebuah novel berjudul sama, karya Sekar Ayu Asmara.

Film dibuka dengan adegan di sebuah galeri seni, mirip bioskop juga. Gambir (Fachri Albar), seorang seniman (pematung) sukses yang mengusung tema wanita hamil di setiap karyanya. Diselingi dialog penuh misteri antara Gambir dan Talyda (istrinya, diperankan oleh Marsha Timothy) film ini lalu dibuka dengan opening ala film Hollywood!!, animasi dan BGM pembukanya sangat tidak biasa untuk ukuran film Indonesia ‘masa kini’. Baguslah, ada nilai lebihnya nih. Secara visual bener-bener oke, gambarnya artistik, ceritanya juga berada ‘di luar jalur’. Jempol deh.


Balik ke cerita, nah di balik kesuksesan Gambir, ternyata ia dan istrinya menyimpan suatu rahasia (no spoiler deh). Masalahnya, selain rahasia itu, kehidupan Gambir mulai terganggu sejak ia mendapatkan ‘pesan’ minta tolong dari seseorang yang misterius. Pokoknya sepanjang film pikiran Gambir dijadikan permainan, hingga akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk bernama Herosase (no spoiler lagi). Dari situlah, Gambir akhirnya menemukan siapa yang memberikannya pesan meminta tolong itu. Sekaligus menemukan kenyataan menyakitkan yang juga melibatkan istri, 2 sahabat dan ibunya sendiri. Lalu, Pintu-nya mana?tenang, pintunya itu ada di basement rumah Gambir, pintu berwarna merah terang itu sudah dilabeli penuh rahasia dan tidak boleh dibuka oleh sang istri. Makin penasaran kan?hehehe.
Filmnya sendiri cukup menghibur, alur ceritanya menarik untuk diikuti karena penasaran (subjektif), settingnya sendiri seakan bukan di Indonesia (sengaja kali ya?). Tapi yang cukup mengganggu adalah dialognya yang sebagian besar memakai bahasa baku, jadinya kurang alami gitu. Akting Marsha kurang bagus disini, masih tampak dilebih-lebihkan, over-acting (Ternyata ada juga reviewer yang berpendapat sama), lalu gerakan menyibak rambut Fachri yang terlalu sering juga menurut saya cukup mengganggu. Juga masih banyak dialog-dialog cheesy ala Indonesia, hehehe.

Naahh, setelah menonton dua film ini, bingo, secara tidak langsung ada beberapa point yang menjadi benang merah/kesamaan (menurut saya) dengan Shutter Island.
1. Adaptasi sebuah novel (oke, masih normal)
2. Thriller psikologi, bermain dengan pikiran sang tokoh utama (oke, masih diterima)
3. Sang istri memegang kunci rahasia (mirip-mirip sikitlah)
4. Tokoh utama sama-sama dihantui sesuatu.
5. Isi sendiri deh kalo nemu….

Hell with that, yang penting Pintu Terlarang cukup menghibur dan berani tampil beda. Toh walaupun tidak begitu laku di negeri sendiri, tapi film ini ditanggapi positif di dunia internasional. Kesimpulannya, film ini memang film nasional layak tonton!. Hail Joko Anwar!!

  • Pintu Terlarang terpilih dan diputar pada International Film Festival Rotterdam ke-38 pada 21 Januari hingga 1 Februari 2009.
  • Pintu Terlarang juga berhasil meraih penghargaan Best of Puchon di Puchon Intenational Fantastic Film Pestival yang digelar di Korea Selatan pada 16-26 juli 2009 (sumber wikipedia)

Not surprisingly, though, not only Pintu Terlarang met my already high expectation, it has also managed to surpass it in many ways: cinematography, angles, and a brilliant adaptation of the original storyline (I only wish that someday I would have the chance to see the uncut or director’s cut version)

This movie is a perfectly executed thriller combining startling and grisly violence with mystery and a foreboding mood. A young artist finds himself drawn into a world of terror against his will and his life begins to unravel. This is a story of a cruel world and of living under the power of others.

Sutradara : Joko Anwar
Produser : Sheila Timothy
Penulis : Joko Anwar
Pemeran : Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe
Sinematografi : Ipung Rahmat Syaiful
Penyunting : Wawan I Wibowo
Distributor : Lifelike Pictures
Durasi : 115 menit
More info :

Gambir dan si peminta tolong

Patungnya juga ikut menyimpan rahasia

Christmast’s Gala Dinner

Dari sinilah semua cerita ini berasal

Last, but not least, this cool poster!!

Tags:

PSSI vs Konami

2010/04/07 7 comments

Udah lama gak posting nih, serasa berbulan-bulan, hehehe. Berhubung lagi hot-hotnya Liga Champions dan bentar lagi World Cup 2010, mau nulis sedikit tentang Sepakbola Indonesia aja deh.
Baru saja Kongres Sepakbola Nasional (KSN) selesai. Kongres yang diadakan di Malang, Jawa Timur, pada tanggal 30-31 Maret 2010 lalu itu dikabarkan menghabiskan uang rakyat senilai Rp. 3 miliar dan terancam mubazir karena tidak mampu mengungkap merosotnya prestasi sepak bola Indonesia. Oh NOOOOO… rakyat lagi yang jadi korban.
Pada suatu hari, PSSI datang ke Publisher game terbesar di Jepang, Konami.
PSSI : “Kenapa sih Indonesia tidak dimasukan dalam game Winning Eleven??, di Indonesia sangat populer sekali, sampai dibajak berkali-kali dan lebih cepat update, semua penggemar sepakbola di negara kami sangat pintar memainkannya”
Konami : “Kami tidak bisa.”
PSSI : “Kenapa tidak??”
Konami : “Kami tidak menyediakan kontrol khusus pemain untuk memukul wasit atau lawan mainnya, mencaci wasit atau lawan mainnya, membunuh wasit atau lawan mainnya apalagi memanggil suporternya untuk membantunya dalam insiden tersebut…”
Mungkin PSSI sebaiknya mengadakan kontes Winning Eleven terbesar se-Indonesia saja, untuk mencari bakat-bakat muda terpendam, resiko rusuh, baku hantam dan anarkis ala bonek bisa berkurang. Eh, ketuanya aja mantan narapidana… (gak nyambung).