Archive

Archive for December, 2009

2009 < 2010

2009/12/31 7 comments

Seekor sperma yang baru lahir sedang diajar oleh instrukturnya:

“Begitu kamu disemprot keluar, lari sekencangnya sampai ke ujung gua dan kamu akan ketemu bulatan merah bernama telur.

Deketin dia dan bilang: “Saya sperma.”

Dan dia akan bilang: “Saya telur.”

Dari situ kamu akan mulai bikin calon anak. Mengerti?”. Si sperma mengangguk dengan mantapnya.

Dua hari kemudian waktu lagi asik molor tiba-tiba dia disemprot keluar. Langsung aja dia lari sekencangnya dan teman-temannya ketinggalan dibelakang.

Akhirnya dia duluan sampai di bulatan merah dan dia memperkenalkan dirinya: “Hi, saya sperma.”

Si bulatan merah jawab: “Hi juga, saya amandel… met kenal yach..”

Tags:

Wallies Part.9

2009/12/31 4 comments




Hwahahaha, tadi si gak sengaja dikirimin gambar-gambar Yoona, salah satu member grup SoShi (SNSD/Girls Generation) yang paling banyak penggemarnya (CMIIW), selain Jessica dan sapa itu namanya? lupa. Katanya si ni cewe, bebas oplas (masih ori), well, i dont give a damn, yang penting masih wajar-wajarlah. None of my business. Semoga hasilnya memuaskan, entah kenapa kalo artis Korea, suka stuck idenya… :) :) (ngeles). 1024 x 768.

Yoona (윤아)
Nama asli : Im Yoon-a (임윤아)
Nicknames : Yoong, Deer, Him Yoona (strong Yoona), Yoong-choding
TL : 30 Mei 1990
Tinggi : 166 cm
Berat : 46 kg
Gol. Darah : B
Posisi : Penyanyi / Dancer
Bahasa : Korea (iyalah), Inggris, Chinese (Dasar), Japanese (Dasar)
Keahlian : Dance, Akting
Sisanya silahkan googling atau YouTube-ing. :) :)

Wallies Part.8

2009/12/30 4 comments



Yes, kembali lagi menyetor wallpaper berukuran 1024 x 768, karena stok gambar di HDD paling banyak MakiHo dan KiiKi, jadinya bakal sering jadi wallies, kecuali ada rikues artis lain. Segala kekurangannya mohon maaf, semoga ada yang suka, lol. :) :)

Sang Pemimpi

2009/12/29 14 comments

Ayahku pernah bilang, ‘bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk semua mimpi kita’

Berkesempatan menonton Sang Pemimpi saat premier 17 Desember lalu, dalam pikiran yang terlintas adalah, film ini jaminan berkualitas dan berkelas dibanding film Indonesia lainnya, karena ada nama Riri Riza dan Mira Lesmana di balik proyek tetralogi novel karya Andrea Hirata ini. Seperti yang kamu semua ketahui, film ini adalah adaptasi buku laris yang pada tahun 2008 melakukan debutnya lewat Laskar Pelangi.
Plotnya berkisah seputar pengalaman Haikal/Ikal (Vikri Setiawan) yang sedang merantau di Jakarta, bekerja sebagai petugas pos dan asyik ber-flashback ria ke kehidupan remajanya, dan pertemanannya dengan Arai dan Jimron. OK, karena saya sendiri tidak menyukai novel, maka dipastikan novel terlaris ini pun luput dari ruang baca saya (hayah), tapi menurut beberapa reviewer, banyak yang terkejut karena karakter Lintang, Mahar, dan lainnya dihilangkan.
Film ini mengandalkan narasi Ikal sebagai petunjuk. Bagaimana Ikal bisa terdampar di Jakarta, luntang lantung tidak jelas demi mengejar mimpi menaklukkan dunia dan kuliah master di Sorbonne, Prancis. Mimpi itu dimulai saat ia bertemu Arai, sepupunya yang yatim piatu, Arai-lah yang membangun mimpi itu dan mempertahankannya terus hidup di tengah realitas hidup di Belitong yang pahit, terutama saat sang ayah (Mathias Muchus) terkena PHK atau bertahan di kantor pos melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai setelah lulus kuliah. Realita yang banyak ditemui sekarang kan?
Bagi Ikal, Arai adalah anak yang istimewa, jalan pikirannya terkadang sulit dipahami dan out of the box untuk anak seumurannya, tapi tujuan akhirnya adalah memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Itulah yang membuatnya kagum. Tapi di tengah konflik yang terus ada, tidak jarang Ikal merasa ragu akan mimpinya itu dan menyalahkan Arai sebagai sumber masalahnya.
Petualangan Ikal, Arai, Jimron sejak dari pesantren hingga SMU ini mengisi film berdurasi 120an menit ini. Mulai dari Arai yang nakal dan iseng (tapi pintar), Jimron yang terobsesi dengan kuda, Ikal yang polos. Walaupun mereka hidup miskin (seadanya) tapi tetap semangat belajar dan bekerja demi meraih mimpi masing-masing. Mimpi itu semakin menjadi saat mereka bertemu dengan Pak Balia (Nugie), salah satu guru mereka di SMA. Demi mimpi itu, mereka harus memutar otak dan akal di tengah himpitan kemiskinan. Mereka bekerja part time untuk biaya mimpi ke Paris.
Tidak lupa, masa SMA adalah masa puber dan cinta monyet, kalo di Laskar Pelangi, Ikal yang mengalaminya, kini giliran Arai yang jatuh cinta dengan wanita cantik teman sekelasnya bernama Zakiah Nurmala. Sedangkan Jimron jatuh hati kepada Laksmi, seorang gadis pemurung yang bekerja di pabrik cincau yang tak pernah lagi tersenyum, semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan kapal. Itulah yang mempertemukan Arai dengan musisi orkes melayu, Bang Zaitun, role model dalam urusan cinta di Belitong.
Secara keseluruhan, film ini memang menunjukkan ciri khas Riri dan Miles. Mereka mengeksploitasi keindahan Belitong, view-view indah dan warna yang menyegarkan mata terus menerus ditampilkan, diulang dan diulang hingga kadang membosankan. hehehe. Keduanya juga sukses mengarahkan aktor, aktris muda hasil audisi (ada yang asli Belitong juga ya?), terutama untuk karakter Arai, Jimron dan Zakiah (dari beberapa scene mirip Pevita Pearce, apa hanya halusinasiku ya?). Skenario yang ditulis Riri dan Salman Aristo juga cukup sukses mengangkat tema ‘Indonesia banget’, liat aja bagaimana keragaman suku di Indonesia dengan hadirnya beberapa karakter keturunan Tionghoa, atau menceritakan kerukunan antar umat beragama, dimana Jimron diantar ke pesantren oleh pamannya yang seorang pendeta. Film ini dapat menyampaikan ceramahnya dengan menyelipkan humor-humor yang membuat tertawa tapi juga miris, nyengar nyengir tidak jelas. Konflik antar sahabat, antar orang tua dan anak juga ditampilkan dalam film ini. Mathias Muchus bermain sangat bagus, si Oneng pun tetap tampak seperti Oneng walaupun sudah dimake-up tua dan ‘miskin’. Bagian konflik inilah yang banyak membuat rasa haru, terutama bagian Ayah Juara Nomer Satu di Dunia, langsung teringat jasa-jasa ayah selama ini. :( :( . Nugie pun harus belajar logat Belitong, dan tampil retro dalam film ini, cukup sukses memberikan inspirasi lewat pelajaran mengutip kata-kata orang terkenal, bisa kamu ingat-ingat dan jadikan status facebook nantinya (jangan lupa untuk terus online lewat hape saat menonton film ini). Tapi yang cukup mengejutkan adalah kehadiran Nazril Irham/Ariel sebagai Arai dewasa, banyak reviewer yang memuji penampilan aktingnya disini, tapi saya pribadi tidak. A BIG NO!. Entah kenapa, imej Arai langsung jatuh saat melihatnya dewasa, secara fisik, raut wajah sih mirip, tapi gerak tubuh dan mimiknya itu terlihat memaksakan, seperti sudah bosan melihatnya karena selalu tampil di infotainment dan acara musik TV.

Overall, Sang Pemimpi adalah film Indonesia berkualitas yang menghibur (berbudget 12 m), sama seperti Laskar Pelangi, banyak pesan moral dan nilai positif disampaikan yang bagi sebagian orang bisa mengena nancep ke hati, tapi bagi sebagian lagi akan merasa seperti diceramahi habis-habisan. Film ini sukses membuat saya menahan pipis selama 1 jam (semoga gak kena kencing batu) dan ke toilet dalam hitungan detik saja karena tidak ingin melewatkan adegan selanjutnya. Ini adalah salah satu tanda film Indonesia terbaik tahun 2009. Ya kalo terlewat, tunggu saja di televisi tahun depan. hehehe.
Oya, mungkin karena bersetting di tahun 80 hingga 90 awal, bagian yang agak susah diakalin adalah saat Ikal dan Arai merantau ke Jakarta, tampak beberapa mobil masa kini seliweran di jalan. hehe, mungkin suatu saat Indonesia punya studio ala Universal Studios yang akan memudahkan cerita film bersetting masa lalu. Satu lagi, entah ini masalah intern bioskop (saya nontonnya di E-Pla** Semarang) atau tidak, tapi cukup mengganggu, musiknya suka leot-leot, atau adanya black screen cukup lama tiap ganti adegan, hal ini cukup merusak suasana dan feel dalam film ini. Untuk musik score, Aksan dan Titi Sjuman membuat film ini asik untuk dinikmati tiap adegannya, lagu melayu aslinya pun berhasil mengalahkan ST12 yang juga katanya melayu. Tapi, untuk urusan lagu penutup, Gigi tampaknya harus berada di bawah bayang-bayang Nidji yang sukses membuat lagu Laskar Pelangi begitu memorable. Saya jadi berpikir, kenapa Nidji merilis lagu Sang Mantan hampir bersamaan dengan rilis film ini, ada benang merahnya tidak ya?. Ahh, nevermind, walaupun di bagian ending settingnya agak memaksakan tapi membuat kita gak sabar menunggu film selanjutnya yang beneran bersetting di Eropa, tunggu saja tahun depan.
Jadi film ini layak tonton dan setelahnya susunlah mimpi-mimpimu, wujudkan jadi kenyataan. Bermimpilah yang baik, jangan mimpi basah melulu lewat film-film produksi orang India itu.

“Yang penting bukanlah seberapa besar mimpi kau. Tapi seberapa besar kau untuk mimpi itu.” – Pak guru Balia

More info : Wikipedia, Kaskus


Jimron, Ikal, Arai kecil


Ayah Juara Nomer 1



Para Pelopor Kita


Arai remaja (Ahmad Syaifullah)



Don Juan dari Belitong


Kepala Sekolah/Guru yang amat galak, sadis dah..



Idola para Pelopor, Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda)


Jadi pengen sekolah lagi…


Pak Balia (Nugie)


Argghh, serasa liat video klip


Arai dan Ikal, Sang Pemimpi


Bonus…

Goemon

2009/12/28 8 comments

Baiklah, setelah ditawari meminjadm DVD dari Burigifu yang membawa segepok layaknya lapak di glodok, saya memilih film ini karena adanya sang janda Ryoko Hirosue :) :) , daripada mendownload, lebih baik terima jadi apa adanya deh. hehehe
Goemon, hampir sama ajaibnya dengan Doraemon atau Si Emon (kalo yang ini non-Jepang, Catatan Si Boy) yang bernama belakang sama. Ishikawa Goemon adalah ninja bandit legendaris dari Jepang yang menyerupai Robin Hood dari daratan Inggris Raya. Berlatar belakang sejarah di tahun 1582, dimana saat itu Jepang sedang dalam masa damai tapi diliputi konflik politik perebutan kekuasaan. Karena berlatar belakang sejarah itulah nama Oda Nobunaga, Hattori Hanzo, Tokugawa Ieyasu, Hideyoshi Toyotomi sering disebut dalam dialog. Chacha (Maricha Hey Hey) dan Sasuke pun masuk dalam daftar pemeran utama. hehe. Plot dalam film ini pun sepenuhnya fiksi.

Adegan pembuka yang cukup baik, warna-warnanya dahsyat

Walaupun bersetting abad ke-15, tapi jangan ragukan kecanggihan teknologi Jepang saat itu, mulai dari peti besi yang super rumit, gaya pakaian yang colorful dan up to date, bahkan tarian ala Koda Kumi pun bisa ditemukan di film ini. Mungkin akan dianggap berlebihan oleh sebagian orang.
Film bergenre drama action ini dibuka cukup mengesankan dengan adegan pencurian di rumah seorang pejabat, Goemon berhasil mengelabui ratusan penjaga, menghindari busur, berkelahi di atap rumah, tidak lupa dengan bergaya depan hanabi (kembang api). Selain mencuri uang emas dan membagikannya ke orang-orang, ia juga mengambil sebuah kotak (disebutkan Pandora no hako), yang menjadi incaran penguasa saat itu, Hideyoshi Toyotomi.
Setelah mendengar kabar kalo Kotak Pandora itu sedang dicari-cari pemerintah, Goemon yang tidak sengaja membuangnya, berusaha mencarinya kembali, ia pun lalu bertemu dengan anak kecil dari kawasan kumuh, Koheita, yang menjadi korban kekejaman penguasa yang semena-mena saat itu. Berhasil menemukan dan membuka kotak itu, Goemon akhirnya mengetahui rahasia dan konspirasi pemerintah saat itu. Hideyoshi yang menjadi tokoh antagonis memang selalu beruntung hingga mendekati akhir film ini, jadi jangan gregetan kalo melihat orang ini, selalu lolos dari maut. Tidak lupa tokoh pemanis, Chacha, salah satu kerabat Nobunaga yang diperankan oleh salah satu aktris idola saya, Ryoko Hirosue yang masih tampak imut. :) :)

Saizou vs Goemon

Goemon, adalah seorang yatim piatu yang dipungut oleh Nobunaga lalu dilatih oleh shinobi legendaris, Hattori Hanzo. Dalam masa pelatihannya itu ia berteman dengan Saizou, yang bertekad akan menjadi seorang samurai yang dihormati. Setelah tragedi bunuh diri Oda Nobunaga di kuil Honno-Ji, Goemon lebih memilih untuk ‘bebas’ dan beralih profesi menjadi oodorobou (master of thief) sementara Saizou mengabdi pada pemerintah. Goemon yang selama ini menikmati kebebasannya sebagai pencuri, didampingi sang asisten, Sasuke, akhirnya kembali lagi bertemu dengan Saizou dan Chacha, dua orang sahabatnya di masa kecil dalam usahanya membalas dendam pada Hideyoshi.

Kazuaki Kiriya dan Utada Hikaru saat syuting klip Keep Tryin’

Kazuaki Kiriya, sang sutradara (menangani editing dan sinematografi) dan juga penulis naskah film ini kembali menampilkan ciri khasnya, full of CG. Bila kamu sudah menonton Casshern, maka akan banyak menemukan kesamaan dalam gaya pengambilan gambar diantaranya teknik superzoom (atau apalah namanya), slow-motion, cipratan darah, atau warna-warna fantasi ala RPG dan banyak efek lainnya. Kazuaki pula-lah yang menyutradarai beberapa video klip sang mantan istri, Utada Hikaru (2002-2007). Beberapa diantaranya bergaya mirip dengan Casshern atau Goemon (sulit juga kalo sudah ciri khas), bahkan penggambaran tokoh Chacha, mirip dengan Utada dalam klip Sakura Drops terutama poni dan rambutnya. Kazuaki Kiriya memang lebih dikenal sebagai seorang fotografer dan sutradara video klip. Setelah menyutradarai debut filmnya, Casshern yang cukup sukses, ia mencoba mengangkat legenda Ishikawa Goemon dengan sedikit mengubah alur ceritanya, (Spoiler) seperti pada adegan direbusnya Saizou yang ditangkap karena percobaan pembunuhan atas Hideyoshi, saat itu Saizou mengaku sebagai Goemon, padahal menurut legenda, Goemon-lah yang mati direbus. Ya namanya juga legenda, ada beberapa versi tentang legenda Goemon ini. Cerita Goemon sendiri sering dipentaskan dalam kabuki atau sebelumnya pernah dibuatkan video game berjudul Legend of the Mystical Ninja, disini Kazuaki Kiriya mencoba mix and match cerita, sehingga bagi yang familiar dengan cerita Goemon sendiri akan bingung karenanya.

Yôsuke Eguchi, aktor dan juga penyanyi yang mungkin lebih dikenal lewat dorama Kyumei Byoto 24 Ji atau Unfair berperan sebagai Goemon, ikut menemani Takao Osawa (Saizou Kirigakure), Ryoko Hirosue (Chacha Asai), Jun Kaname (Mitsunari Ishida), Hashinosuké Nakamura (Nobunaga Oda), Eiji Okuda (Hideyoshi Toyotomi), Susumu Terajima (Hanzo Hattori), bahkan Kazuaki Kiriya pun sempat tampil beberapa detik sebagai Mitsuhide Akechi. Deretan aktor tersebut (plus Ryoko Hirosue) terlihat tidak maksimal dalam film ini, mungkin karena terlalu mengandalkan layar biru, layar hijau (dan layar tancap) pada latar belakangnya. Dalam film ini juga banyak adegan absurd, bahkan annoying (salah satunya adegan pertarungan antara Goemon dan Saizou di padang rumput). Jepang bahkan tampak lebih mirip dengan Yunani atau Romawi kuno, dengan prajurit berzirah besi (lebih tampak seperti pasukan Storm Troopers di Star Wars), patung-patung, dan istana yang kelewat megah, lebih tampak seperti game RPG daripada film. Film ini sebenarnya cukup menghibur dari segi cerita, disertai dialog penuh makna ala Jepang. Tapi karena beralur lambat (ciri khas film Jepang), akan terasa membosankan, apalagi visual efeknya yang terlalu berlebihan dan kurang menyatu menjadi nilai minus dalam film berdurasi 128 menit ini apalagi cerita dalam film ini kebanyakan seputar konflik politik dan pengkhianatan demi perebutan kekuasaan.
Tapi kalo kamu menyukai Casshern dan efek Computer Graphic melimpah disana sini, tidak ada salahnya mencoba film yang dirilis 1 Mei 2009 lalu ini. Dan sebaiknya Kazuaki Kiriya mulai belajar membuat film yang lebih realistis dan tidak menyerahkan 90% filmnya pada efek CG yang sedikit mengecewakan. Kalo di Indonesia, Kazuaki Kiriya ini mungkin mirip dengan Rizal Mantovani. :) :)
Yah, namanya juga film, ada kekurangan dan kelebihan, jadi dinikmati saja, hehe. Apakah Goemon berhasil membalaskan dendamnya?

Hattori Hanzo (kiri) & Oda Nobunaga (kanan)
Goemon & Sasuke
Chacha, wah Ryoko-chan masi imut, hehe
Saizou (Takao Osawa)
Hideyoshi Toyotomi (Eiji Okuda)
Mitsunari Ishida, kanan (Jun Kaname)
Serasa di surga, hehehe
Lah ini serasa di Romawi kuno

Sumber : Nippon Cinema, Warner Bros Goemon, Goemon Movie

Tags: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.